Senin, 15 Juni 2015

Pentingnya Mahasiswa sebagai Organisator yang Berpengalaman dan Berkualitas


 Mahasiswa selalu berkaitan dengan kewajiban untuk belajar dan keinginan mereka untuk selalu berkegiatan. Tentu bukan hal yang mudah bagi mahasiswa untuk dapat seimbang antara belajar dan menjadi organisator yang berpengalaman. Keinginan ini berkaitan dengan cara kita untuk mengaplikasikan ilmu yang kita miliki untuk kehidupan masyarakat melalui sikap yang tepat. Dimana kita harus menjalani dua tanggungjawab, yaitu mempelajari materi akademik sekaligus mencari pengalaman dalam kegiatan non akademik. Dalam menjalani kedua tanggung jawab tersebut, pastilah membutuhkan perjuangan, pengorbanan serta akan menghadapi hambatan yang sangat banyak, baik itu dari aspek tenaga, waktu, maupun biaya yang tidak sedikit. Selain itu, dukungan dari orang tua sangat dibutuhkan mahasiswa untuk mencapai keinginannya tersebut.
Seperti yang kita ketahui, mahasiswa merupakan seseorang yang lahir dan berkembang dalam lingkungan masyarakat dan akan kembali kepada masyarakat.  Kehidupan masyarakat itu sendiri setiap saat mengalami perubahan, baik perubahan kebutuhan, tata kelola pemerintahan, cara pandang, maupun perubahan yang lainnya. Setiap perubahan tersebut  menuntut adanya tindakan yang tepat dari semua orang. Sehingga pada akhirnya apa yang telah didapat mahasiswa selama menempuh pendidikan  harus diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat sekitarnya.
Mahasiswa merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki kedudukan lebih tinggi dibandingkan siswa ataupun pelajar lainnya, baik dalam hal ilmu, cara berpikir maupun pengalamannya. Kedudukan tersebut menyebabkan mahasiswa memiliki peran sebagai generasi penerus kehidupan bangsa dan negara, baik dalam bidang pendidikan, pemerintahan, ekonomi, kebudayaan maupun bidang yang lainnya. Sehingga, mahasiswa tidak hanya membutuhkan ilmu-ilmu akademik saja, melainkan juga membutuhkan berbagai pengalaman yang berkualitas untuk dijadikan acuan dalam mengaplikasikan ilmu yang ia dapat ke dalam tindakan yang tepat kepada masyarakat. Oleh karena itu, mahasiswa merupakan perantara antara masyarakat dengan pemerintah, maupun sebaliknya.
Seorang mahasiswa tidak dapat hanya aktif dan unggul dalam bidang akademik saja, melainkan harus mampu bersosialisasi dengan baik dengan sesama mahasiswa, dosen maupun lingkungan sekitarnya. Bersosialisasi yang dimaksud adalah adanya hubungan timbal balik antara mahasiswa dengan lingkungan sekitarnya yang terjadi secara berkelanjutan setiap hari. Hal ini merupakan langkah awal untuk belajar mencari pengalaman sebelum terjun langsung kedalam kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Salah satu perwujudan awal agar mahasiswa dapat bersosisalisasi lebih aktif, adalah dengan mengikuti kegiatan-kegiatan maupun organisasi-organisasi di tingkat jurusan, fakultas, maupun universitas.
Sebelum kita membahas mengenai mahasiswa yang berorganisasi, terlebih dahulu kita harus mengetahui pengertian organisasi. Organisasi dapat berarti suatu perkumpulan beberapa orang dalam suatu kerjasama yang memiliki suatu tujuan berdasarkan suatu pembagian kerja yang tetap diantara setiap anggotanya. Didalam UUD 1945 pasal 28, berorganisasi disebut dengan istilah berserikat atau berkumpul. Setiap pasal dalam UUD 1945 bersumber dari nilai-nilai Pancasila, dan kita mengetahui bahwa nilai-nilai Pancasila berakar dari nilai-nilai kehidupan bangsa Indonesia. Sehingga, berorganisasi sebenarnya merupakan suatu hal yang sudah ada sejak sebelum Pancasila dan UUD 1945 disusun. Jika orang-orang zaman dahulu yang notabene belum berpendidikan tinggi tetapi sudah berpikir untuk berorganisasi, kemudian muncul pertanyan, mengapa kita yang hidup di zaman modern dan berpendidikan tinggi justru tidak mau berorganisasi?
Seorang mahasiswa yang pandai berorganisasai biasanya disebut organisator. Organisasi yang dimaksud disini tidak hanya organisasi yang secara struktural diakui oleh pihak perguruan tinggi, melainkan seluruh organisasi dan kegiatan mahasiswa yang ada dari tingkat prodi, jurusan, fakultas hingga perguruan tinggi. Beberapa organisasi yang biasanya diikuti oleh mahasiswa, diantaranya adalah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) yang ada di tingkat fakultas maupun universitas, Himpunan Mahasiswa Jurusan maupun Prodi, berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Selain beberapa organisasi yang secara struktural diakui oleh pihak perguruan tinggi, juga terdapat organisasi yang secara struktural tidak diakui oleh perguruan tinggi tetapi keberadaannya diketahui oleh seluruh pihak perguruan tinggi, yaitu Badan Semi Otonom yang biasanya ada di tingkat jurusan.
Mahasiswa yang aktif dalam berorganisasi akan mendapatkan pengalaman yang lebih banyak dibandingkan mahasiswa yang fokus pada pembelajaran akademik saja. Mental mereka akan terlatih untuk bijak dalam mengambil kesempatan dan menghargai waktu. Mereka yang aktif berorganisasi akan terlatih untuk mengutarakan pendapat maupun pikiran mereka dengan baik dan jelas, serta menghargai pendapat dan keputusan orang lain. Melalui organisasi pula, kita akan mengetahui bagaimana cara bersosisialisasi dengan banyak orang dengan berbagai karakter.
Pengalaman yang tidak kalah penting diantara berbagai pengalaman berorganisasi adalah pengalaman pada saat menjalin kerjasama dengan pihak diluar mahasiswa. Pihak-pihak yang dimaksud ini seperti pihak pegawai, dosen hingga pimpinan di universitas. Selain itu, terdapat kerjasama dengan pihak diluar universitas baik itu masyarakat biasa maupun pimpinan perusahaan-perusahaan yang menjalin kerjasama dalam kegiatan oraganisasi yang diikuti. Jalinan kerjasama seperti ini yang akan mengajarkan kepada mahasiswa tentang cara bersikap, bertutur kata dan melatih kepercayaan diri dalam berkomunikasi secara langsung dengan pihak-pihak tersebut. Pengalaman seperti ini yang mungkin tidak akan bisa didapatkan oleh mahasiswa yang sama sekali tidak mengikuti kegiatan maupun organisasi di kampus.
Dalam berorganisasi, pasti akan ada keberhasilan dan kegagalan dalam menjalankan setiap kegiatan organisasi tersebut. Pada saat kegiatan organisasi berjalan dengan lancar, maka tidak akan ada permasalahan apapun yang akan memberikan tantangan kepada anggotanya. Namun, pada saat ada kegiatan organisasi yang tidak berjalan lancar atau mengalami hambatan dalam melaksanakan kegiatan tersebut, maka saat seperti inilah yang akan memberi pengalaman lebih bagi anggota organisasi, mahasiswa, untuk mengatasi setiap hambatan yang muncul dan mencari jalan keluar yang tepat untuk mengatasinya. Dalam organisasi, setiap keberhasilan maupun kegagalan dalam berorganisasi, akan bermanfaat bagi kehidupan mahasiswa untuk kedepannya.
Satu hal yang menjadi permasalahan, berkaitan dengan mahasiswa dan organisasi maupun kegiatan adalah tidak adanya batasan jumlah dalam mengikuti organisasi maupun kegiatan di kampus. Setiap mahasiswa diperbolehkan mengikuti lebih dari satu organisasi maupun kegiatan, tetapi muncul permasalahan baru lagi dari hal ini. Permasalahan tersebut berkaitan dengan  konsistensi mahasiswa dalam menjalankan tanggung jawabnya pada masing-masing organisasi yang diikutinya. Sebagian besar orang hanya menilai seseorang aktif atau pasif  berdasarkan daftar organisasi maupun kegiatan yang diikuti oleh orang tersebut. Sedangkan dalam kenyataannya, ia hanya aktif dan menjalankan tanggung jawabnya pada organisasi atau kegiatan tertentu saja.
Salah satu hal penting yang harus ditanyakan kepada seorang calon anggota organisasi sebelum ia menjadi anggota organisasi tersebut adalah konsistensi dan tanggungjawabnya. Jika konsistensi seorang mahasiswa dalam berorganisasi tidak ada, maka harus dipertanyakan kembali tujuan awal ia mengikuti organisasi-organisasi tersebut. Karena mengikuti organisasi tidak hanya sekedar ikut mencantumkan nama pada daftar kepengurusan, melainkan harus konsisten dengan tanggung jawab yang sudah dipercayakan kepada kita. Dan akhirnya, disinilah kualitas seorang organisator dipertanyakan dan dipertanggungjawabkan.
Menjadi seorang organisator yang berkualitas merupakan suatu hal yang tidak mudah. Berkualitas yang dimaksud dapat mencakup beberapa hal, seperti kejujuran, tanggungjawab, konsistensi, loyalitas, kedisiplinan serta aspek-aspek lainnya. Dalam setiap tindakan maupun kegiatan pasti terdapat hambatan, termasuk dalam berorganiasi. Terdapat banyak sekali hambatan yang menyebabkan seorang organisator tidak berkualitas dalam berorganisasi, baik hambatan dari individualnya maupun dari lingkungan sekitar organisator secara langsung maupun tidak langsung.
Banyak yang beranggapan bahwa mahasiswa yang aktif berorganisasi akan terhambat prestasi akademiknya. Pernyataan ini tidak dapat dibenarkan, karena antara belajar dan berorganisasi jika dilakukan secara seimbang, tidak akan merugikan satu sama lainnya. Padahal, melalui organisasi,  kita akan mendapat berbagai informasi yang lebih banyak dari teman-teman seorganisasi yang kemungkinan berasal dari jurusan maupun fakultas yang berbeda. Mereka akan memberi saran, kritik sampai nasihat dari apa yg kita lakukan.
Menjadi seorang mahasiswa yang aktif berorganisasi memiliki beberapa manfaat, diantaranya:
1.    Memperluas pergaulan dan jaringan (relasi)
Melalui suatu organisasi, seorang mahasiswa akan memperoleh teman-teman maupun relasi baru dari prodi, jurusan, fakultas bahkan dari universitas lain. Para mahasiswa akan belajar untuk bergaul dan menjalin komunikasi yang baik dengan orang lain melaui pergaulan ini. Jika kita memiliki masalah maupun hambatan dalam organisasi dan membutuhkan bantuan dari orang lain, maka kita sudah memiliki relasi mengenai siapa yang kira-kira dapat membantu permasalahan kita di organisasi.
2.    Meningkatkan wawasan atau pengetahuan
Seiring dengan menigkatnya pergaulan mahasiswa yang berorganisasi, maka ia akan mendapatkan wawasan maupun pengetahuan yang lebih banyak lagi mengenai berbagai keadaan. Misalkan, jika kita mempunyai teman dari fakultas lain yang sama-sama satu organisasi dengan kita, maka informasi apapun yang ada di fakultas lain tersebut akan dengan mudah kita ketahui melalui teman kita tersebut. Selain bertukar informasi, kita juga dapat bertukar ilmu pengetahuan, misalkan jika mahasiswa A berasal dari Prodi Bahasa Inggris dan mahasiswa B berasal dari Prodi Bahasa Arab, maka keduanya dapat saling mengajarkan mengenai ilmu yang mereka pelajari masing-masing.
3.    Meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan kepemimpinan
Dalam berorganisasi, kita akan berhubungan dengan orang-orang diluar organisasi yang belum kita ketahui bagaimana karakternya. Tentu saja dalam berkomunikasi, kita harus pandai-pandai memilih kata yang akan kita ucapkan kepada mereka. Pada saat kita berkomunikasi dengan orang lain kita juga harus dapat mengimbangi materi pembicaran dari lawan bicara kita, sehingga pembicaraan dapat berjalan terarah dan tercapai tujuan pembicaraan. Selain itu, kita akan belajar mengenai cara memimpin, karena akan ada saatnya dimana kita diberi kepercayaan menjadi ketua suatu kegiatan dan bertanggungjawab terhadap kegiatan kita dan mengorganisir seluruh panitia yang terlibat.
4.    Belajar mengatur waktu
Kesibukan seorang mahasiswa yang aktif berorganisasi dapat melampaui jumlah waktu perkuliahan, tetapi hal ini tidak boleh dijadikan alasan oleh mahasiswa untuk tidak mengerjakan tugas kuliah bahkan tidak masuk perkuliahan. Sudah menjadi konsekuensi, jika mengikuti kegiatan organisasi maka harus pandai mengatur waktu antara berkegiatan dan belajar. Seorang organisator yang berkualitas harus mampu mengatur dan mnegantisipasi keadaan tersebut supaya seimbang.
5.     Sebagai bekal pengalaman untuk dunia kerja
Dalam dunia kerja, setiap orang yang terlibat berdasarkan pada prinsip teamwork atau kerjasama. Tidak ada satupun pekerjaan yang dapat dilakukan secara individual. Mengikuti organisasi di perkuliahan sangat penting, karena merupakan langkah awal untuk sukses di dunia kerja nantinya. Jika hanya datang ke kampus, masuk kelas, belajar, pulang kemudian melakukan hal yg sama setiap harinya, akan membuat kita menjadi mahasiswa pasif.
Berdasarkan uraian diatas, organisator yang berpengalaman dan berkualitas merupakan tuntutan bagi semua organisator. Mahasiswa sebagai generasi berpendidikan dan perubahan, harus memiliki kesiapan untuk menghadapi perubahan global yang dinamis. Bergabung dalam organisasi maupun kegiatan di kampus, dapat menjadi ajang untuk berlatih menghadapi perubahan global dan dunia kerja. Hal ini disebabkan  karena materi-materi perkuliahan tidak mengajari kemampuan-kemampuan softskills, hanya sebatas pengetahuan teknis akan suatu disiplin ilmu.
Dewasa ini, dunia kerja memasukkan kriteria softskill dalam merekrut calon karyawan baru. Softskill yang dimiliki masing-masing calon karyawan baru akan memberi nilai tambah bagi calon karyawan baru tersebut. Sebagian besar perusahaan berpendapat bahwa calon karyawan yang memiliki pengalaman berorganisasi mempunyai kemampuan interpersonal yang lebih baik dibanding calon karyawan yang tidak mempunyai pengalaman organisasi. Calon karyawan yang pernah berorganisasi, lebih terlatih jiwa kepemimpinannya, pandai dalam mengatur waktu dan mempunyai relasi yang luas.
Untuk meraih sukses, kita tidak hanya butuh kemampuan akademik saja, melainkan juga membutuhkan pengalaman. Pengalaman yang dimaksud ini tidak hanya sekedar daftar riwayat organisasi saja, tetapi pengalaman yang berkualitas yang dapat dipertanggungjawabkan dalam  lingkungan kerja maupun lingkungan masyarakat. Sehingga, semua ilmu dan pengalaman yang dimiliki dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, masyarakat maupun kemajuan bangsa dan negara. Dengan demikian, pengalaman berorganisasi yang berkualitas sangat penting bagi kehidupan mahasiswa di masa sekarang maupun di masa yang akan datang.



Tugas Bahasa Indonesia : Artikel Catatan Akhir Mahasiswa / Semester 2
PBA/BSA/FBS/Unnes

Tidak ada komentar:

Posting Komentar