Mahasiswa
selalu berkaitan dengan kewajiban untuk belajar dan keinginan mereka untuk
selalu berkegiatan. Tentu bukan hal yang mudah bagi mahasiswa untuk dapat
seimbang antara belajar dan menjadi organisator yang berpengalaman. Keinginan
ini berkaitan dengan cara kita untuk mengaplikasikan ilmu yang kita miliki
untuk kehidupan masyarakat melalui sikap yang tepat. Dimana kita harus
menjalani dua tanggungjawab, yaitu mempelajari materi akademik sekaligus
mencari pengalaman dalam kegiatan non akademik. Dalam menjalani kedua tanggung
jawab tersebut, pastilah membutuhkan perjuangan, pengorbanan serta akan
menghadapi hambatan yang sangat banyak, baik itu dari aspek tenaga, waktu, maupun
biaya yang tidak sedikit. Selain itu, dukungan dari orang tua sangat dibutuhkan
mahasiswa untuk mencapai keinginannya tersebut.
Seperti
yang kita ketahui, mahasiswa merupakan seseorang yang lahir dan berkembang
dalam lingkungan masyarakat dan akan kembali kepada masyarakat. Kehidupan masyarakat itu sendiri setiap saat
mengalami perubahan, baik perubahan kebutuhan, tata kelola pemerintahan, cara
pandang, maupun perubahan yang lainnya. Setiap perubahan tersebut menuntut adanya tindakan yang tepat dari
semua orang. Sehingga pada akhirnya apa yang telah didapat mahasiswa selama
menempuh pendidikan harus diaplikasikan
dalam kehidupan masyarakat sekitarnya.
Mahasiswa
merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki kedudukan lebih tinggi
dibandingkan siswa ataupun pelajar lainnya, baik dalam hal ilmu, cara berpikir
maupun pengalamannya. Kedudukan tersebut menyebabkan mahasiswa memiliki peran
sebagai generasi penerus kehidupan bangsa dan negara, baik dalam bidang
pendidikan, pemerintahan, ekonomi, kebudayaan maupun bidang yang lainnya. Sehingga,
mahasiswa tidak hanya membutuhkan ilmu-ilmu akademik saja, melainkan juga
membutuhkan berbagai pengalaman yang berkualitas untuk dijadikan acuan dalam
mengaplikasikan ilmu yang ia dapat ke dalam tindakan yang tepat kepada
masyarakat. Oleh karena itu, mahasiswa merupakan perantara antara masyarakat
dengan pemerintah, maupun sebaliknya.
Seorang
mahasiswa tidak dapat hanya aktif dan unggul dalam bidang akademik saja,
melainkan harus mampu bersosialisasi dengan baik dengan sesama mahasiswa, dosen
maupun lingkungan sekitarnya. Bersosialisasi yang dimaksud adalah adanya
hubungan timbal balik antara mahasiswa dengan lingkungan sekitarnya yang
terjadi secara berkelanjutan setiap hari. Hal ini merupakan langkah awal untuk
belajar mencari pengalaman sebelum terjun langsung kedalam kehidupan
masyarakat, bangsa dan negara. Salah satu perwujudan awal agar mahasiswa dapat
bersosisalisasi lebih aktif, adalah dengan mengikuti kegiatan-kegiatan maupun
organisasi-organisasi di tingkat jurusan, fakultas, maupun universitas.
Sebelum
kita membahas mengenai mahasiswa yang berorganisasi, terlebih dahulu kita harus
mengetahui pengertian organisasi. Organisasi dapat berarti suatu perkumpulan
beberapa orang dalam suatu kerjasama yang memiliki suatu tujuan berdasarkan
suatu pembagian kerja yang tetap diantara setiap anggotanya. Didalam UUD 1945
pasal 28, berorganisasi disebut dengan istilah berserikat atau berkumpul.
Setiap pasal dalam UUD 1945 bersumber dari nilai-nilai Pancasila, dan kita mengetahui
bahwa nilai-nilai Pancasila berakar dari nilai-nilai kehidupan bangsa
Indonesia. Sehingga, berorganisasi sebenarnya merupakan suatu hal yang sudah
ada sejak sebelum Pancasila dan UUD 1945 disusun. Jika orang-orang zaman dahulu
yang notabene belum berpendidikan tinggi tetapi sudah berpikir untuk
berorganisasi, kemudian muncul pertanyan, mengapa kita yang hidup di zaman
modern dan berpendidikan tinggi justru tidak mau berorganisasi?
Seorang
mahasiswa yang pandai berorganisasai biasanya disebut organisator. Organisasi
yang dimaksud disini tidak hanya organisasi yang secara struktural diakui oleh
pihak perguruan tinggi, melainkan seluruh organisasi dan kegiatan mahasiswa
yang ada dari tingkat prodi, jurusan, fakultas hingga perguruan tinggi. Beberapa
organisasi yang biasanya diikuti oleh mahasiswa, diantaranya adalah Badan
Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) yang ada di
tingkat fakultas maupun universitas, Himpunan Mahasiswa Jurusan maupun Prodi,
berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Selain beberapa organisasi yang secara
struktural diakui oleh pihak perguruan tinggi, juga terdapat organisasi yang
secara struktural tidak diakui oleh perguruan tinggi tetapi keberadaannya
diketahui oleh seluruh pihak perguruan tinggi, yaitu Badan Semi Otonom yang
biasanya ada di tingkat jurusan.
Mahasiswa
yang aktif dalam berorganisasi akan mendapatkan pengalaman yang lebih banyak
dibandingkan mahasiswa yang fokus pada pembelajaran akademik saja. Mental
mereka akan terlatih untuk bijak dalam mengambil kesempatan dan menghargai
waktu. Mereka yang aktif berorganisasi akan terlatih untuk mengutarakan
pendapat maupun pikiran mereka dengan baik dan jelas, serta menghargai pendapat
dan keputusan orang lain. Melalui organisasi pula, kita akan mengetahui
bagaimana cara bersosisialisasi dengan banyak orang dengan berbagai karakter.
Pengalaman
yang tidak kalah penting diantara berbagai pengalaman berorganisasi adalah
pengalaman pada saat menjalin kerjasama dengan pihak diluar mahasiswa.
Pihak-pihak yang dimaksud ini seperti pihak pegawai, dosen hingga pimpinan di
universitas. Selain itu, terdapat kerjasama dengan pihak diluar universitas
baik itu masyarakat biasa maupun pimpinan perusahaan-perusahaan yang menjalin
kerjasama dalam kegiatan oraganisasi yang diikuti. Jalinan kerjasama seperti
ini yang akan mengajarkan kepada mahasiswa tentang cara bersikap, bertutur kata
dan melatih kepercayaan diri dalam berkomunikasi secara langsung dengan
pihak-pihak tersebut. Pengalaman seperti ini yang mungkin tidak akan bisa
didapatkan oleh mahasiswa yang sama sekali tidak mengikuti kegiatan maupun
organisasi di kampus.
Dalam
berorganisasi, pasti akan ada keberhasilan dan kegagalan dalam menjalankan
setiap kegiatan organisasi tersebut. Pada saat kegiatan organisasi berjalan
dengan lancar, maka tidak akan ada permasalahan apapun yang akan memberikan
tantangan kepada anggotanya. Namun, pada saat ada kegiatan organisasi yang
tidak berjalan lancar atau mengalami hambatan dalam melaksanakan kegiatan
tersebut, maka saat seperti inilah yang akan memberi pengalaman lebih bagi
anggota organisasi, mahasiswa, untuk mengatasi setiap hambatan yang muncul dan
mencari jalan keluar yang tepat untuk mengatasinya. Dalam organisasi, setiap keberhasilan
maupun kegagalan dalam berorganisasi, akan bermanfaat bagi kehidupan mahasiswa
untuk kedepannya.
Satu
hal yang menjadi permasalahan, berkaitan dengan mahasiswa dan organisasi maupun
kegiatan adalah tidak adanya batasan jumlah dalam mengikuti organisasi maupun
kegiatan di kampus. Setiap mahasiswa diperbolehkan mengikuti lebih dari satu
organisasi maupun kegiatan, tetapi muncul permasalahan baru lagi dari hal ini.
Permasalahan tersebut berkaitan dengan
konsistensi mahasiswa dalam menjalankan tanggung jawabnya pada
masing-masing organisasi yang diikutinya. Sebagian besar orang hanya menilai
seseorang aktif atau pasif berdasarkan
daftar organisasi maupun kegiatan yang diikuti oleh orang tersebut. Sedangkan
dalam kenyataannya, ia hanya aktif dan menjalankan tanggung jawabnya pada
organisasi atau kegiatan tertentu saja.
Salah
satu hal penting yang harus ditanyakan kepada seorang calon anggota organisasi
sebelum ia menjadi anggota organisasi tersebut adalah konsistensi dan
tanggungjawabnya. Jika konsistensi seorang mahasiswa dalam berorganisasi tidak
ada, maka harus dipertanyakan kembali tujuan awal ia mengikuti
organisasi-organisasi tersebut. Karena mengikuti organisasi tidak hanya sekedar
ikut mencantumkan nama pada daftar kepengurusan, melainkan harus konsisten
dengan tanggung jawab yang sudah dipercayakan kepada kita. Dan akhirnya, disinilah
kualitas seorang organisator dipertanyakan dan dipertanggungjawabkan.
Menjadi
seorang organisator yang berkualitas merupakan suatu hal yang tidak mudah.
Berkualitas yang dimaksud dapat mencakup beberapa hal, seperti kejujuran,
tanggungjawab, konsistensi, loyalitas, kedisiplinan serta aspek-aspek lainnya. Dalam
setiap tindakan maupun kegiatan pasti terdapat hambatan, termasuk dalam
berorganiasi. Terdapat banyak sekali hambatan yang menyebabkan seorang
organisator tidak berkualitas dalam berorganisasi, baik hambatan dari
individualnya maupun dari lingkungan sekitar organisator secara langsung maupun
tidak langsung.
Banyak
yang beranggapan bahwa mahasiswa yang aktif berorganisasi akan terhambat
prestasi akademiknya. Pernyataan ini tidak dapat dibenarkan, karena antara
belajar dan berorganisasi jika dilakukan secara seimbang, tidak akan merugikan
satu sama lainnya. Padahal, melalui organisasi,
kita akan mendapat berbagai informasi yang lebih banyak dari teman-teman
seorganisasi yang kemungkinan berasal dari jurusan maupun fakultas yang
berbeda. Mereka akan memberi saran, kritik sampai nasihat dari apa yg kita lakukan.
Menjadi
seorang mahasiswa yang aktif berorganisasi memiliki beberapa manfaat,
diantaranya:
1.
Memperluas
pergaulan dan jaringan (relasi)
Melalui suatu organisasi, seorang mahasiswa akan memperoleh
teman-teman maupun relasi baru dari prodi, jurusan, fakultas bahkan dari
universitas lain. Para mahasiswa akan belajar untuk bergaul dan menjalin
komunikasi yang baik dengan orang lain melaui pergaulan ini. Jika kita memiliki
masalah maupun hambatan dalam organisasi dan membutuhkan bantuan dari orang
lain, maka kita sudah memiliki relasi mengenai siapa yang kira-kira dapat
membantu permasalahan kita di organisasi.
2.
Meningkatkan
wawasan atau pengetahuan
Seiring dengan menigkatnya pergaulan mahasiswa yang berorganisasi,
maka ia akan mendapatkan wawasan maupun pengetahuan yang lebih banyak lagi
mengenai berbagai keadaan. Misalkan, jika kita mempunyai teman dari fakultas
lain yang sama-sama satu organisasi dengan kita, maka informasi apapun yang ada
di fakultas lain tersebut akan dengan mudah kita ketahui melalui teman kita
tersebut. Selain bertukar informasi, kita juga dapat bertukar ilmu pengetahuan,
misalkan jika mahasiswa A berasal dari Prodi Bahasa Inggris dan mahasiswa B
berasal dari Prodi Bahasa Arab, maka keduanya dapat saling mengajarkan mengenai
ilmu yang mereka pelajari masing-masing.
3.
Meningkatkan
kemampuan berkomunikasi dan kepemimpinan
Dalam berorganisasi, kita akan berhubungan dengan orang-orang
diluar organisasi yang belum kita ketahui bagaimana karakternya. Tentu saja
dalam berkomunikasi, kita harus pandai-pandai memilih kata yang akan kita
ucapkan kepada mereka. Pada saat kita berkomunikasi dengan orang lain kita juga
harus dapat mengimbangi materi pembicaran dari lawan bicara kita, sehingga
pembicaraan dapat berjalan terarah dan tercapai tujuan pembicaraan. Selain itu,
kita akan belajar mengenai cara memimpin, karena akan ada saatnya dimana kita
diberi kepercayaan menjadi ketua suatu kegiatan dan bertanggungjawab terhadap
kegiatan kita dan mengorganisir seluruh panitia yang terlibat.
4.
Belajar
mengatur waktu
Kesibukan seorang mahasiswa yang aktif berorganisasi dapat
melampaui jumlah waktu perkuliahan, tetapi hal ini tidak boleh dijadikan alasan
oleh mahasiswa untuk tidak mengerjakan tugas kuliah bahkan tidak masuk
perkuliahan. Sudah menjadi konsekuensi, jika mengikuti kegiatan organisasi maka
harus pandai mengatur waktu antara berkegiatan dan belajar. Seorang organisator
yang berkualitas harus mampu mengatur dan mnegantisipasi keadaan tersebut supaya
seimbang.
5.
Sebagai bekal pengalaman untuk dunia kerja
Dalam dunia kerja, setiap orang yang terlibat berdasarkan pada
prinsip teamwork atau kerjasama. Tidak ada satupun pekerjaan yang dapat
dilakukan secara individual. Mengikuti organisasi di perkuliahan sangat penting,
karena merupakan langkah awal untuk sukses di dunia kerja nantinya. Jika hanya
datang ke kampus, masuk kelas, belajar, pulang kemudian melakukan hal yg sama setiap
harinya, akan membuat kita menjadi mahasiswa pasif.
Berdasarkan
uraian diatas, organisator yang berpengalaman dan berkualitas merupakan
tuntutan bagi semua organisator. Mahasiswa sebagai generasi berpendidikan dan
perubahan, harus memiliki kesiapan untuk menghadapi perubahan global yang
dinamis. Bergabung dalam organisasi maupun kegiatan di kampus, dapat menjadi
ajang untuk berlatih menghadapi perubahan global dan dunia kerja. Hal ini
disebabkan karena materi-materi
perkuliahan tidak mengajari kemampuan-kemampuan softskills, hanya
sebatas pengetahuan teknis akan suatu disiplin ilmu.
Dewasa
ini, dunia kerja memasukkan kriteria softskill dalam merekrut calon karyawan
baru. Softskill yang dimiliki masing-masing calon karyawan baru akan
memberi nilai tambah bagi calon karyawan baru tersebut. Sebagian besar
perusahaan berpendapat bahwa calon karyawan yang memiliki pengalaman
berorganisasi mempunyai kemampuan interpersonal yang lebih baik dibanding calon
karyawan yang tidak mempunyai pengalaman organisasi. Calon karyawan yang pernah
berorganisasi, lebih terlatih jiwa kepemimpinannya, pandai dalam mengatur waktu
dan mempunyai relasi yang luas.
Untuk
meraih sukses, kita tidak hanya butuh kemampuan akademik saja, melainkan juga
membutuhkan pengalaman. Pengalaman yang dimaksud ini tidak hanya sekedar daftar
riwayat organisasi saja, tetapi pengalaman yang berkualitas yang dapat
dipertanggungjawabkan dalam lingkungan
kerja maupun lingkungan masyarakat. Sehingga, semua ilmu dan pengalaman yang
dimiliki dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, masyarakat maupun kemajuan
bangsa dan negara. Dengan demikian, pengalaman berorganisasi yang berkualitas
sangat penting bagi kehidupan mahasiswa di masa sekarang maupun di masa yang
akan datang.
Tugas Bahasa Indonesia : Artikel Catatan Akhir Mahasiswa / Semester 2
PBA/BSA/FBS/Unnes
Tidak ada komentar:
Posting Komentar